Konferensi Pusat Studi Gender dan Anak ke-3 merupakan program dua tahunan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia yang dilaksanakan pada tanggal 15-18 Oktober 2024 di Universitas Islam Negeri Mataram. Pada konferensi ini, ada tiga kegiatan yang dilaksanakan yaitu International Conference on GENSIA (Gender, Sosial Inklusi dan Anak), Musyawarah Nasional Pusat Studi Gender dan Anak, dan Seleksi Perguruan Tinggi Responsif Gender. Dalam laporan panitia yang disampaikan oleh Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Direktorat PTKI, Dr. Nur Kafid, MA menyebutkan bahwa nara sumber dari kegiatan ini adalah Prof. Jan Ali dari Australia; Dr. Siti Nurjanah, MA dari Amerika; Prof. Farish A. Noor dari Malaysia; Lies Marcoes, MA dan Prof. Dr. Atun Wadatun, MA. Sedangkan peserta berasal dari para kepala Pusat Studi Gender dan Anak PTKI sebanyak 77 orang, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian sebanyak 40 orang, dan para presenter International Conference sebanyak 66 orang yang terpilih dari 198 paper yang tidak hanya datang dari dalam negeri tetapi juga dari Australia, Thailand, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Acara ini dibuka oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan bahwa nilai-nilai kesetaraan dan inklusif tidak hanya sekedar menjadi wacana, namun harus diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam lingkup keluarga dalam menjalin relasi yang setara antara suami dan istri.
Menumbuhkan kesadaran gender merupakan sebuah proses panjang yang tidak mudah dilalui karena masyarakat kita berada kungkungan budaya patriarkhi yang sangat kental. Sebagai Direktur, beliau mengawal kebijakan Kementerian Agama dalam Pengarusutamaan gender dan menciptakan budaya nirkekerasan di lingkungan perguruan tinggi Islam.
Memperkuat apa yang disampaikan oleh Direktur PTKI, Raktor UIN Mataram Prof. Dr. Masnun Tahir, M.Ag mengungkapkan pengalamannya belajar gender dari Ibu Lies Marcoes yang pada saat itu juga hadir sebagai salah satu pembicara Musyawarah Nasional PSGA. Pemikiran beliau yang terbuka dan inklusif kemudian diimplementasikan dalam bentuk berbagai kebijakan responsive gender di UIN Mataram untuk pemenuhan kebutuhan strategis dan kebutuhan praktis gender.
Kebijakan tersebut tertuang dalam SK Rektor tentang Pencegahan dan Penanganan kekerasan Seksual di kampus; SK pengurus UIN Care, Focal Point Gender dan Dewan Etik; serta Deklarasi Bersama UIN Mataram Responsive Gender pada tahun 2022 bersamaan dengan penyelenggaraan International Conference PSGA ke-1. Berdirinya UIN Care pada tahun 2021 sebagai unit layanan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kampus bertujuan untuk mewujudkan kampus yang aman, nyaman dan ramah bagi semua. Selain itu, juga telah berdiri Daycare untuk pemenuhan kebutuhan praktis gender atas Kerjasama Pusat Studi gender dan Anak, Darma Wanita dan Prodi PIAUD UIN Mataram.
Atas berbagai kebijakan tersebut, UIN Mataram berhasil meraih Peringkat Utama Perguruan Tinggi Responsfi Gender tahun 2024, setingkat lebih tinggi dari apa yang diraih sebelumnya pada Konferensi PSGA di Palembang tahun 2022. Tentu, penghargaan ini tidak lepas dari kerjasama berbagai pihak dari pimpinan dan seluruh civitas yang telah mendukung komitmen UIN Mataram mewujudkan Perguruan Tinggi Responsive Gender.