Pusat Studi Gender dan Anak UIN Mataram melaksanakan kegiatan diskusi dan bedah buku biografi tokoh perempuan dengan judul Beauty Erawati Menantang Kekuatan Memecah Kebisuan, dengan menghadirkan para nara sumber Beauty Erawati, ketua LBH Apik NTB yang juga sebagai tokoh yang diangkat dalam buku ini; Naniek Mudayat sebagai penulis buku; dan Prof.Dr. Atun Wardatun, MA sebagai akademisi dan sekaligus ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Mataram. Kegiatan ini dimoderatori oleh kepala PSGA, Dr. Nikmatullah, MA. Diskusi ini di buka oleh Prof. Adi Fadli, M.Ag, Wakil Rektor bidang akademik sekaligus menjadi plh Rektor UIN Mataram selama Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. Masnun Tahir, M.Ag menjalankan tugas sebagai Petugas Haji tahun 2024. Dalam sambutannya, Wakil Rektor mengungkapkan bahwa menulis buku itu penting, apalagi terkait dengan tokoh yang dikenal oleh masyarakat luas. Buku menjadi inspirasi dan motivasi bagi pembacanya dalam memberikan semangat dalam berjuang dan melakukan perubahan di masyarakat. Selain itu, Prof. Adi juga membagi pengalamannya dalam menulis biografi tokoh seperti TGH Saleh Bengkel. Menurutnya, dalam proses pengumpulan data, tentu tidak mudah apalagi jika yang dituliskan tersebut adalah orang yang sudah meninggal dunia. Oleh karena itu, beliau sangat mengapresiasi buku biografi tersebut dan menyampaikan bahwa menulis buku biografi orang yang masih hidup itu belum beakhir karena mereka masih mengalami fase kehiduan berikutnya.

Selanjutnya, Beauty mengungkapkan kisah hidupnya sejak pertama kali datang ke Lombok tahun 1987 karena menikah dengan laki-laki asal Lombok, pada usia masih muda, 19 tahun. Perjalanan kehidupan perkawinannya yang tidak mulus dan berakhir dengan perceraian. Dominasi maskulinitas laki-laki, konflik, dan persoalan ekonomi menjadi penyebab perceraiannya. Namun akhirnya ia menemukan pelabuhan hati terakhir dengan menikah dengan bule asal New Zealand dan menetap disana bersama suaminya hingga saat ini.

Berangkat dari pengalaman rumah tangganya yang tidak baik-baik saja, ia termotivasi untuk menjadi aktivis pembela hak-hak perempuan yang menjadi korban berbagai bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, maupun penelantaran ekonomi. Perjuangannya berawal sejak menjadi menjadi Direktur beberapa Lembaga swadaya masyarakat, seperti Lembaga Swadaya Indonesia,  PKBI hingga menjadi Direktur LBH APIK NTB. Dari pengalamannya menangani kasus kekerasan, ia mengungkapkan bahwa pelaku dan korban tidak hanya berasal dari kalangan bawah yang secara pendidikan rendah dan ekonomi

Berikutnya, Prof. Atun mengungkapkan berbagai rintangan dan tantangan yang dihadapi oleh perempuan aktivis baik secara personal, keluarga, kultural maupun structural. Dalam konteks perempuan yang menjadi korban, tidak semuanya mampu untuk bangkit dan berjuang untuk melawan dan membantu sesama seperti yang dilakukan oleh sosok Beauty. Dibutuhkan keberanian dan rasa empati terhadap sesama. Oleh karena itu, ketika menjawab pertanyaan dari peserta apakah seseorang harus menjadi korban dulu baru berjuang, maka dengan tegas ia mengatakan tidak. Ada banyak aktivis perempuan yang berjuang karena didasari oleh rasa empati terhadap korban. Atun menyampaikan ada tiga tipe orang yaitu pintar, berani dan bermanfaat bagi orang lain. Ketiga tipe ini dimiliki oleh sosok Beauty, meskipun mendapatkan berbagai stigma dari berbagai pihak,  namun ia tidak gentar dan terus berjuang hingga saat ini.

Kisah perjuangan, kegigihan dan keberanian Beauty dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, telah mendorong Naniek Mudayat untuk menulis buku ini. Sebagai seorang wartawan Bali Post yang telah menulis 30-an buku biografi para tokoh di Indonesia, ia menuturkan bahwa awalnya ia berniat untuk melihat proses transformasi paradigma gerakan perempuan di NTB, namun setelah wawancara dengan berbagai pihak, ia memutuskan untuk menuliskan biografi Beauty Erawati, sosok yang banyak disebut oleh para nara sumber. Namun demikian, hal tersebut tidak mudah karena membutuhkan 2 tahun untuk mendapatkan ijin untuk menuliskan buku tersebut. Proses penulisan buku ini sama dengan karya ilmiah lainnya. Pencarian data dilakukan melalui wawancara dengan berbagai nara sumber. Menurutnya, ia lebih suka menulis dengan cara berkisah untuk menghindari interpretasi terhadap data yang diperoleh dan kontroversial sebagai respon masyarakat terhadap buku yang ditulis. Oleh karena itu, buku biografi ini sangat menarik dan layak untuk di baca oleh semua orang terutama kalangan aktivis. Buku ini menjadi inspirasi bagi para aktivis dan pejuang gender bahwa dalam setiap perjuangan membutuhkan keberanian untuk memecah kebisuan yang membungkam para kelompok rentan dan korban, serta keberanian untuk menghadapi para penguasa dan orang-orang yang memiliki privilege dalam kultur budaya patriakrhi yang kental di masyarakat.