Mataram – Pusat Studi Gender dan Anak mengadakan Pelatihan Metodologi Feminis ini dari proses Pendaftaran : 12 Juni – 22 Juli 2023 pengumuman tanggal : 24 Juli 2023 dan Pelaksanaan kegiatan  Pada tanggal 27 Juli 2023 dimana Pelatihan Metodologi Feminis menjadi begitu penting karena dapat membantu dan memberikan kerangka kerja bagi kita yang sedang bekerja dan menaruh perhatian pada persoalan perempuan. Metode ini mengingatkan kita perlu menghargai keanekaragaman pandangan dan pendapat dan tidak ada kebenaran mutlak terhadap segala sesuatu. Cara pandang ini mengkritisi metode yang selama ini dianut dan digunakan, terutama penelitian-penelitian sosial ataupun penulisan-penulisan ilmiah, yang percaya bahwa kuantitas dapat merujuk kepada adanya kebenaran sosial. Lebih lanjutnya, metode ini mengajak kita untuk melihat, mendengar dan selalu bertanya serta melakukan interaksi baik dengan orang lain maupun diri sendiri untuk kemudian menghadirkan sebuah tatanan kehidupan yang lebih baik bagi perempuan dan masyarakat.

Kegiatan diawali dengan penyampaian laporan oleh Ketua LP2M Prof. Dr. Atun Wardatun, M.A bahwa Pelatihan Metodologi Penelitian Feminis  dilaksanakan bertahap yaitu Tahapan awal dari training ini berupa proses penyeleksian peserta, dari sebanyak 45 orang peserta yang mendaftar yang berasal dari lingkungan UIN Mataram, maka lolos 30 orang untuk menjadi peserta pelatihan metodologi penelitian feminis. Nantinya peserta yang terpilih mengikuti pelatihan, mereka mengikuti proses penyeleksian kembali untuk dapat mengikuti pelatihan Metodologi Feminis Tingkat Advanced pada Juli 2023. Proses penyeleksian akan dinilai berdasarkan hasil Research Design yang telah dibuat oleh peserta dan merupakan sebuah proses yang dihasilkan selama pelatihan berlangsung.

Kegiatan diskusi dibuka oleh Wakil Rektor I UIN Mataram bapak Prof. Dr. H. Adi Fadli, M.Ag. beliau memberikan apresiasi kepada LP2M atas penyelenggaraan kegiatan Pelatihan Metodologi Feminis yang dilaksanakan. Lebih lanjut beliau juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada narasumber atas kesediaannya berbagi ilmu tentang metodologi penelitian feminis.

Pada kegiatan pelatihan metodologi penelitian feminis dari pemaparan narasumber Sri Wiyanti Eddyono, S.H., LL.M.(HR), Ph.D. (DOSEN FH UGM YOGYAKARTA) : (1) Peneliti muda memperoleh pengayaan metodologi penelitian berperspektif feminis dan mampu menyebarluaskan penerapan pada kerja-kerja penelitian. (2) Meningkatkan pemahaman peneliti terhadap cara-cara mengelola penelitian, mengenali teori feminis, dan pilihan-pilihan metodologinya yang berkaitan dengan persoalan perempuan dan konteks sosial, politik dan budaya. (3) Peserta dapat mengembangkan jaringan forum belajar metodologi di kalangan penelti serta meningkatkan kemampuan untuk melakukan analisis kritis dengan menggunakan perspektif feminis. (4) Meningkatkan kemampuan peserta dalam menulis laporan ilmiah yang dapat disebarluaskan melalui jurnal atau buku sehingga ada proses pengenalan terhadap metode penelitian feminis bagi pembaca hasil penerbitan tersebut.

Capaian Peserta: (1) Peserta dapat memahami metodologi penelitian feminis, termasuk sumber dan filosofi landasan teori maupun praxisnya. (2) Peserta dapat meningkatkan kapasitasnya sebagai peneliti dengan meraih sumber-sumber acuan dan rujukan baru tentang penelitian feminis. (3) Peserta mampu mengkaji perkembangan teori praxis feminis, termasuk menyelaraskan diri dengan etika feminis. (4) Peserta mampu membiasakan diri mengelola penelitian dengan keterampilan manajemen yang memadai. (5) Draf artikel ilmiah akan diterbitkan di jurnal bereputasi

Pada proses pelaksanaan kegiatan Narasumber didampingi oleh Dr. Nikmatullah, MA. (Kepala Pusat Studi Gender dan Anak) UIN Mataram menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini untuk menstimulisir peserta dapat menelaah secara kritis kebenaran pemikiran dan pemahaman terhadap kenyataan sosial agar nantinya seorang peneliti akan memiliki kerangka konseptual dan analisis yang tajam dalam membaca realitas sosial yang dihadapi perempuan.Penelitian metodologi feminis secara teori dan praktik. Sebagai peneliti yang berkonsentrasi kepada isu perempuan dan kesetaraan gender, sudah pasti memerlukan pemahaman yang kuat atas penelitian dengan menggunakan metode feminis. Hal ini menjadi semakin penting untuk peneliti WRI, karena penelitian menggunakan metode feminis memiliki kekhususan yang berbeda dengan penelitian umumnya. Termasuk juga model penulisannya. Dan Melihat kondisi perempuan Indonesia dalam konteks kekinian dan mengintegrasikannya dengan keyakinan feminisme yang dimiliki. Kerapkali terjadi kebingungan untuk berposisi terhadap suatu permasalahan, misalnya pada afirmatif action bagi perempuan. Di satu sisi merasa harus bergerak ala feminis radikal yang menjadikan perebutan kursi kekuasaan adalah persoalan persaingan yang harus diraih. Tak jarang juga tidak yakin dengan pandangan tersebut dan memilih liberal saja, atau main aman dengan menjadi moderat. Ketidakmampuan berposisi lumayan merepotkan jika diletakkan dalam konteks