Peran keluarga sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai dan idiologi tertentu terhadap anak-anak, termasuk idiologi terorisme. Kasus teroris yang terjadi di Surabaya pada tahun 2018 yang melibatkan seluruh anggota keluarga: suami, istri, dan anak-anak masih menarik untuk diperbincangkan.
Keterlibatan anak-anak yang tidak berdosa dan tidak mengerti tentang aksi teror yang dilakukan oleh orang tua mereka, tentu menimbulkan tanda tanya: bagaimana peran keluarga dalam aksi radikalisme? Apa yang menjadi motivasi orang tua melibatkan anak-anak mereka dalam aksi teror? Bagaimana kondisi terkini anak-anak yang terlibat dalam aksi teroris? Ketiga pertanyaan ini dibahas dalam diskusi “Family and Terrorism: Rethinking the role of the family in terrorism” yang diadakan oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Mataram pada hari Kamis, 10 Maret 2022 di Hotel Lombok Plaza.
Narasumber diskusi perdana PSGA tahun 2022 ini ada dua orang: Dr. Haula Noor, Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) yang juga alumni Australian National University (ANU). Isu terorisme yang terkait dengan keluarga menjadi bagian dari disertasi beliau di Department Political and Social Change, ANU. Narasumber kedua adalah Prof. Atun Wardatun, ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Mataram, yang memaparkan penelitiannya tentang nasionalisme mahasiswi bercadar di perguruan tinggi di NTB.
Haula dalam pemaparannya menyebutkan salah satu organisasi teroris di Indonesia yakni Jamaah Anshorud Daulah (JAD) yang pro-ISIS (Islamic State Iraq and Syiria) yang mempunyai misi untuk memperjuangkan khalifah dan daulah di dunia Islam. Keterlibatan perempuan dan anak-anak dalam aksi teroris tidak terlepas dari fatwa pemimpin mereka yang membolehkan keterlibatan perempuan dalam jihad. Jika sebelumnya para jihadis (teroris) menempatkan perempuan di belakang sebagai pendukung laki-laki, maka dalam perkembangannya, peran perempuan justru setara dengan laki-laki. Perempuan ikut mengangkat senjata dan terlibat aktif dalam beberapa bom bunuh diri. Sedangkan anak-anak dilibatkan oleh orang tua mereka melalui doktrinasi ideologi jihad. Anak-anak yang patuh terhadap orang tua dan masih dalam tahap perkembangan dan pencarian jati diri, sangat rentan dipengaruhi oleh orang tua mereka untuk terlibat aktif dalam aksi teror.
Selanjutnya Haula menjelaskan ada dua tipikal keluarga yang terlibat dalam aksi teroris: keluarga jihadis aktif dan keluarga non-jihadis yang mempunyai peran langsung ataupun tidak langsung dalam membentuk generasi jihadis. Faktor eksternal dari nilai-nilai yang ditanamkan ISIS dan keluarga yang teralienasi dari masyarakat sekitar sangat berperan penting dalam pelibatan anak-anak dalam aksi yang dilakukan. Meskipun Haula juga tidak menafikan faktor lain yang mendorong terjadinya aksi terorisme, seperti ekonomi dan pendidikan. Saat ini, anak-anak tersebut menjadi sangat ekstrim dan terlibat secara aktif dalam beberapa aksi terror di Philiphina dan sebagian tinggal di Syiria bersama dengan keluarga mereka. Haula menyebutkan sekitar ratusan masyarakat Indonesia yang saat ini tinggal di camp di Syiria yang terprovokasi propaganda ISIS untuk memperjuangkan berdirinya negara Islam.
Pada kesempatan yang sama, ketua LP2M menyatakan bahwa cadar yang digunakan oleh sebagian mahasiswi di beberapa perguruan tinggi di NTB tidak menunjukkan bahwa mereka cenderung radikal atau bergabung di organisasi yang beraliran keras. Sebagian mereka menggunakan cadar hanya sebagai bagian dari fashion yang digunakan sesuai dengan kebutuhan. Meskipun demikian, ada mahasiswi yang mengarah ke pemikiran radikal yang tidak setuju pancasila menjadi dasar negara. Bagi mereka, Islam seharusnya menjadi dasar Negara Republik Indonesia karena penduduknya mayoritas beragama Islam.
Terkait dengan pengaruh keluarga terhadap idiologi, Prof. Atun Wardatun juga menyampaikan bahwa dalam penelitianya, memang ditemukan adanya pengaruh yang signifikan walaupun secara tidak langsung dari keluarga di dalam penanaman idiologi anti nasionalisme. Mereka banyak terpengaruh oleh circle pertemanan yang membawa mereka kepada pengajian yang mengarahkan ke ide merubah dasar negara. Hal ini menandakan bahwa kontrol orang tua dan komunikasi yang terjalin di dalam keluarga sangat minim untuk mendiskusikan hal-hal yang mereka dengar dan temukan di luar. Usia remaja yang masih labil seperti para mahasiswa membutuhkan jangkar yang kuat dari keluarga agar mereka berlabuh secara tegas pada idiologi yang lebih moderat dalam mendukung NKRI. Tidak lupa pula, dalam posisinya sebagai ketua LP2M beliau menekankan bahwa penelitian-penelitian yang menekankan pada data yang bersifat mikro dan meso misalnya pada tataran keluarga dan personal perlu terus digalakkan. Hal ini akan meberikan perspektif alternative tentang isu radikalisme dan topik-topik lainnya.
Diskusi berlangsung sangat menarik. Para peserta mengajukan beberapa pertanyaan kepada nara sumber terkait dengan beberapa isu seperti cyber terrorism, agensi perempuan dalam terorisme, dan sebagainya. Sebagai rekomendasi dari hasil diskusi, ketua LP2M merencanakan untuk menjadikan family-based research sebagai salah satu topik penting dalam program Litapdimas UIN Mataram. Hal ini selaras dengan saran dari Wakil Rektor 1 UIN Mataram, Prof. Adi Fadhli ketika membukan acara diskusi yang mengharapkan agar diskusi ditindaklanjuti dengan penelitian dan aksi nyata di masyarakat. Sedangkan Sekretaris LP2M, Dr. M. Sa’i dalam sambutannya menyampaikan peran penting PSGA dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender termasuk dengan mendirikan UIN Care yang fokus pada pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kampus sebagai implementasi dari SK Dirjen Pendis nomor 5494 tahun 2019 dan SK Rektor UIN Mataram nomor 2355 tahun 2021.